RSS

Model Pembelajaran Perubahan Konseptual

12 Mar

MODEL PEMBELAJARAN PERUBAHAN KONSEPTUAL

  1. A.    Pendahuluan

Model  perubahan  konseptual  berdasarkan  pada  filosofi  pembelajaran konstruktivisme. Konstruktivisme   merupakan   proseskimia  pembelajaran   yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri seseorang. Berdasarkan faham konstruktivime, dalam proses belajar mengajar guru tidak serta merta
memindahkan  pengetahuan  kepada  peserta  didik  dalam  bentuk  yang  serba sempurna.  Peserta  didik  harus  membangun  suatu  pengetahuan  berdasarkan pengalaman masing-masing. Untuk membantu peserta didik dalam membina konsep atau pengetahuan baru, guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada mereka. Apabila pengetahuan baru telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebagian dari pegangan kuat mereka, barulah kerangka baru tentang suatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina.

Dalam proses pembelajaran dengan konstruktivisme, siswa harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka dengan bantuan guru. Proses pembelajaran dengan penekanan siswa belajar aktif ini sangat penting dan perlu dikembangkan karena keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitifnya. Mereka juga akan terbantu menjadi orang kritis dalam menganalisis suatu hal karena mereka berpikir dan bukan meniru saja.

Pendekatan ini menekankan agar murid mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya, memerlukan waktu belajar yang relatif lama, dan penanganan yang berbeda-beda untuk setiap murid. Ini dapat menjadi hambatan terutama bila berhadapan dengan kurikulum yang sarat muatan. Kendala lain dalam pelaksanaan konstruktivisme di Indonesia adalah situasi dan kondisi setiap sekolah tidak sama. Ada beberapa sekolah yang mempunyai sedikit sarana, dalam situasi seperti ini kita harus tetap memilih dan mencoba beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melibatkan siswa agar aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Kegiatan kelompok seperti diskusi, menulis dan mempresentasikan hasil diskusi atau makalah, serta meneliti di lapangan dapat menantang siswa untuk aktif berpikir dan membangun pengetahuan mereka.

Dalam proses belajar mengajar, guru harus sadar bahwa siswa sudah mempunyai pengetahuan awal, yaitu pengetahuan yang akan menjadi dasar untuk membangun pengetahuan mereka selanjutnya. Jadi, dalam hal ini guru harus mengetahui taraf pengetahuan siswa.

Adapun jawaban siswa terhadap suatu persoalan adalah jawaban yang terbaik bagi mereka saat itu. Kalaupun jawaban tersebut salah, guru harus membantu atau memberi jalan kepada siswa sehingga dengan demikian diharapkan jawaban menjadi lebih baik. Untuk itu, guru perlu menciptakan suasana yang menyenangkan. Guru perlu membantu mengaktifkan siswa untuk berpikir dengan memberikan orientasi dan arah, tetapi tidak memaksakan. Cara ini cukup memakan waktu tapi siswa menemukan dan menyelesaikan sendiri dan ia akan siap untuk menghadapi persoalan baru.

Peran guru dalam pembelajaran dengan konstruktivisme adalah sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar murid berjalan dengan baik. Peran ini dapat dijabarkan dalam beberapa tugas berikut:

  1. Menyediakan kondisi/pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa, mendukung proses belajar siswa, memberi semangat, dan berpastisipasi aktif pada setiap kegiatan siswa.
  2. Menyediakan konflik kognitif dalam upaya mengubah miskonsepsi yang dibawa siswa menuju kepada konsep ilmiah.
  3. Menyediakan sarana yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya, merangsang siswa berpikir secara produktif atau membantu siswa dalam mengekspresikan atau mengkomunikasikan gagasannya.
  4. Memonitor, mengevaluasi, dan memberikan umpan balik kepada siswa untuk menunjukkan apakah pemikiran siswa berhasil atau tidak.

Perlu kita ketahui bahwa tidak semua model pembelajaran dapat digunakan di mana saja dan dalam situasi apa saja. Seorang guru yang konstruktivis harus dapat mengembangkan metode dalam suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan awal siswanya.

Terdapat model pembelajaran yang bertolak dari pandangan konstruktivis tentang pembentukan pengetahuan, salah satunya adalah model pembelajaran perubahan konseptual.

  1. B.     Model pembelajaran perubahan konseptual.

Model perubahan konseptual merupakan model pembelajaran yang banyak
digunakan  dalam  mata  pelajaran  IPA.  Model  ini  untuk  pertama  kalinya diperkenalkan oleh Posner, dkk  tahun 1982 dan sudah lebih dari satu dekade model ini telah banyak mempengaruhi riset dalam bidang konsepsi anak. Model ini pertama kali dikembangkan di Cornell University pada tahun 1978-1979 (Barlia, 2009).

Model perubahan konseptual merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang perlu dikembangkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar yang diinginkan. Pembelajaran inovatif yang berlandaskan paradigma konstruktivistik membantu siswa untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru.

Model perubahan konseptual ini hampir sama dengan Model Struktur Ilmu
Pengetahuan (A Model of A Structure of Knowledge) dari Marlin L. Tanck (1969). Model  struktur  ini  menyajikan  materi  yang  penuh  dengan  muatan  konsep, generalisasi dan teori. Gardner (1991) mengemukakan bahwa transformasi terjadi melalui kreasi pemahaman baru yang merupakan hasil dari munculnya struktur kognitif baru. Pemahaman yang mendalam terjadi ketika hadirnya informasi baru yang mendorong munculnya atau menaikkan struktur kognitif yang memungkinkan para siswa memikirkan kembali ide-ide mereka sebelumnya. Dalam seting kelas konstruktivistik, para siswa bertanggung jawab terhadap pelajarannya, menjadi pemikir yang otonom, mengembangkan konsep terintegrasi,  mengembangkan  pertanyaan  yang  menantang,  dan  menemukan jawabannya secara mandiri.

  1. C.    Pembelajaran perubahan konseptual.

Ada beberapa model pembelajaran yang bertolak dari pandangan konstruktivisme tentang pembentukan pengetahuan, salah satu diantaranya adalah model pembelajaran perubahan konseptual (conceptual change). Davidson dalam Hudojo menjelaskan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme menekankan pada proses perubahan konseptual pelajar. Dalam hal ini konsepsi-konsepsi yang dimiliki pelajar sebelum mengikuti pelajaran harus digali terlebih dahulu.

Konsep adalah pengertian umum sedangkan konsepsi adalah pendapat seseorang tentang konsep. Dalam hal ini konsepsi yang telah dimiliki siswa sebelum mengikuti pelajaran secara formal disebut “konsepsi awal”. Pada umumnya konsepsi ini tidak sesuai dengan konsepsi ilmuan Driver and Oldam dalam Sutrisno.

Ada bebeapa istilah untuk mengungkapkan konsepsi awal siswa, antara lain:

  1. Children Science yang diungkapkan oleh Osborne (1980:1), untuk menggambarkan pengetahuan para siswa tentang dunia dan arti dari istilah-istilah yang mereka gunakan. Para siswa mengembangkannya untuk lebih memahami sesuatu yang ada di lingkungannya.
  2. Alternative Pre-Conception yang diungkapkan oleh Clernent (1982:66), yang dikembangkan dengan alasan bahwa konsepsi alternatif dimiliki para siswa sebelum mengikuti kegiatan belajar secara formal.
  3. Alternative Framework yang diungkapkan oleh Driver (1986:443), untuk mengasumsikan bahwa para siswa memiliki kerangka berpikir yang berlainan dengan kerangka berpikir ilmuan.
  4. Common Mis-conception yang diungkapkan oleh MC. Dermott (dalam Sutrisno, 1997:2), untuk menyatakan pandangan (konsepsi) para siswa yang tidak sesuai dengan pandangan para ilmuan. Dalam hal ini konsepsi awal siswa dianggap sebagai konsepsi yang keliru.
  5. Prior Knowledge  yang diungkapkan oleh Bell (dalam Sutrisno, 1997:4), diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki para siswa sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran.

Dari pengertian konsepsi awal di atas, maka disimpulkan bahwa konsepsi awal siswa adalah pengetahuan awal siswa tentang suatu konsep yang sudah diperoleh dan dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Sedangkan konsepsi siswa adalah pemahaman atau pengertian, pendapat, atau kerangka berpikir siswa tentang suatu konsep yang diperoleh dan dimiliki siswa sesudah mengikuti pembelajaran.

Terkait dengan konsepsi awal (prakonsepsi)  dan miskonsepsi sering juga dipandang sebagai padanan satu sama lain, meskipun tidak bisa dianggap tepat sama maknanya. Dalam hal ini yang dimaksud dengan prakonsepsi adalah konsep awal yang dimiliki oleh seseorang tentang sesuatu objek. Konsep awal ini dapat diperoleh seseorang dari pendidikan formal dan dari pendidikan secara tidak formal.

Konsep awal tentang sesuatu objek yang dimiliki oleh seseorang, tidak mustahil apabila berbeda dengan konsep yang diajarkan di sekolah tentang objek yang sama. Juga bukan suatu yang mengherankan kalau konsep yang diterima siswa di sekolah tidak tepat sama dengan konsep yang diajarkan di perguruan tinggi. Dalam semacam inilah kemudian “prakonsepsi” itu dapat menjadi suatu miskonsepsi. Soedjadi mengatakan bahwa dalam pembelajaran kimia, miskonsepsi dapat dijumpai dalam beberapa sumber antara lain; makna kata, aspek praktis, sim-plifikasi, ketunggalan struktur matematika, dan gambar. Dan tentu masih mungkin terdapat sumber lain sebagai penyebab terjadinya miskonsepsi. Berg mengemukakan bahwa apabila guru mengajar tanpa memperhatikan miskonsepsi yang sudah ada dalam proses berpikir siswa sebelum pelajaran dilaksa-nakan, guru tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar. Oleh karena itu, dibagian lain Berg mengatakan bahwa kunci untuk memperbaiki miskonsepsi siswa dan konsepsi siswa yang sudah hampir benar adalah interaksi dengan siswa melalui latihan, pertanyaan dan soal. Tanpa interaksi dengan siswa, guru tidak dapat mengetahui miskonsepsi siswa, konsepsi siswa yang hampir benar dan tidak dapat memperbaikinya. Berg mengatakan bahwa miskonsepsi adalah konsepsi siswa yang bertentangan dengan konsep para ilmuan. Sedangkan Sedjadi mengatakan bahwa konsep awal siswa yang tidak sesuai dalam struktur deduktif aksiomatik matematika. Berdasarkan pendapat di atas, maka yang dimaksud miskonsepsi mahasiswa adalah pemahaman atau pengertian mahasiswa tentang konsep yang sudah dipelajari yang tidak sesuai dengan pengertian konsep ilmuwan.

Strike dan Porner dalam Sutrisno mengatakan bahwa belajar merupakan pemahaman suatu ide baru, menilai kebenaran ide dan konsistennya dengan ide yang lain. Anggapan dasarnya adalah bahwa konsepsi yang dibawa oleh pelajar berpengaruh pada kemampuan untuk belajar dan berpengaruh pada ide yang akan dipelajari. Lonning mengatakan bahwa “belajar perubahan konseptual digambarkan sebagai assimilasi, yaitu perubahan konsep-konsep baru pada pengetahuan yang telah ada dan sebagai akomodasi yaitu penyususnan ulang dan peng-gantian ide baru dengan konsep yang lebih tepat”. Soedjadi mengatakan bahwa model perubahan konseptual kemungkinan lebih sesuai digunakan untuk meluruskan suatu miskonsepsi. Hal ini disebabkan suatu model pembelajaran yang dimulai dengan menggali terlebih dahulu konsepsi-konsepsi pelajar sebelum mengikuti pembelajaran di kelas dan menuntut pelajar untuk menyempurnakan pengetahuan yang sudah dimiliki serta merubah, menyusun ulang atau mengganti pengetahuan yang sudah dimiliki tetapi salah dengan pengetahuan baru yang benar. Jadi model pembelajaran perubahan konseptual yang dimaksud dalam tulisan ini adalah suatu model pengajaran yang disusun berdasarkan konsepsi mahasiswa dan dapat diterapkan oleh pengajar untuk meluruskan konsepsi siswa yang kurang jelas atau berbeda sekali dengan konsep ilmiah dan sekaligus membangun konsepsi baru. Melalui perubahan konseptual dalam kegiatan pembelajaran, para pelajar diharapkan aktif membentuk pengetahuannya sendiri dengan cara memodifikasi konsepsi yang telah dimilikinya.

  1. D.    Proses Terjadinya Perubahan Konseptual.

Menurut Posner (1982) dan Hewson (1989), jika perubahan konseptual akan terjadi, mula-mula anak itu harus merasa tidak puas dengan gagasan yang ada. Walaupun demikian, ketidakpuasan saja tidak cukup untuk mengganti gagasan lama dengan gagasan baru. Harus ditambahkan tiga kondisi, yaitu gagasan baru itu haris intelligible (dapat dimengerti), plausible (masuk akal), dan fraitfull (memberi suatu kegunaan). Pada umumnya focus pengajaran sains hanya pada intelligiblety (Gunstone, 1992) dan jarang memperhatikan plausibility. Ternyata segi kegunaan (fraitfull) sangat menentukan terjadinya perubahan konseptual.

Mengingat pentingnya perubahan konseptual dari pengetahuan awal siswa pada proses pembelajaran yang berlandaskan pada pandangan constructivist. Novik (1982) mengemukakan bahwa perubahan konseptual terjadi melalui akomodasi kognitif yang berawal dari pengetahuan awal siswa. Untuk menciptakan proses akomodasi kognitif tersebut, Novick mengusulkan tiga tahap strategi kemudian tiga tahap terangkum dalam suatu model pembelajaran, yang dikenal dengan model pembelajaran Novick. Model pembelajaran Novick tersebut mempunyai pola umum seperti bagan berikut:

Bagan model pembelajaran Novick diadaptasi dari Osborne 1985 : 103

1)      Fase pertama, eksposing alternative framewok (mengukapkan konsepsi awal).

Terdapat dua hal utama yang perlu dilakukan pada fase pertama yaitu:

  1. mengungkapkan konsepsi awal siswa

Mengungkapkan konsepsi awal siswa dalam mengajar ditujukan agar terjadi perubahan konseptual sesuai dengan gagasan contructivist yang memungkinkan siswa membentuk konsepsi baru yang lebih ilmiah dari konsepsi awalnya. Pengetahuan awal yang dimiliki siswa bisa benar atau salah, unuk itu langkah penting yang harus dilakukan guru agar terjadi perubahan konseptual yaitu membuat siswa sadar akan gagasan mereka sendiri tentang topik yang sedang dipelajari. Dalam mengungkapkan konsepsi awal siswa, guru harus melakukan dua hal yaitu menghadirkan suatu peristiwa baik yang sudah diketahui siswa atau yang baru diketahui siswa kemudian meminta mereka untuk mendeskripsikannya.

  1. Mendiskusikan dan mengevaluasi konsepsi awal siswa.

Tujuan langkah ini adalah untuk memperjelaskan dan meninjau kembali konsepsi awal siswa melalui kelompok dan diskusi siswa. Hal pertama yang dapat dilakukan guru adalah dengan bertanya pada siswa tentang uraian konsepsi mereka. Setelah semua konsep siswa diungkapkan, guru memimpin kelas itu untuk mengevaluasi masing-masing konsepsi yang diajukan.

Menurut Natsir (1997:38) “evaluasi konsepsi yang diajukan berdasarkan kejelasannya atau kemengertiannya (intelligible), dapat masuk akal (plausible) dan peluang keberhasilan (fruitfull) dalam menjelaskan peristiwa yang dihadirkan. Nussbaum dan Novick (1982) menyatakan bahwa “pada langkah ini guru harus menerima semua penyajian dan menahan diri untuk tidak memberikan penilaian salah atau benar”. Walaupun guru tidak memberikan penilaian salah atau benar, tetapi guru harus tetap mengevaluai gagasan mereka didasarkan pada kejelasannya, kemengertiannya dan peluang keberhasilannya.

2)      Fase kedua , creating conceptual conflict (menciptakan konflik konseptual)

Menciptakan konflik konseptual (konflik kognitif) dalam pikiran siswa adalah satu tahap penting dalam pembelajaran, sebab dengan hanya adanya konflik tersebut siswa merasa tertantang untuk belajar. Dengan kata lain mereka merasa tidak puas dengan kenyataan yang sedang dihadapinya.

Untuk menciptakan konflik konseptual, Niaz (Mas’ud 2006:67) memberikan contoh beberapa situasi yang sekaligus menjadi indikator terjadinya konflik konseptual dalam diri siswa antara lain :

  1. Kejutan (surprise) yang diitimbulkan oleh munculnya seseorang yang kontradiksi dengan persepsinya.
  2. Pengetahuan yang penuh dengan teka-teki, merasa gelisah atau sebuah keingintahuan intelektualnya.
  3. Kekosongan akan pengalaman kognitif, seperti jika seseorang sadar akan segala sesuatu dalam struktur kognitifnya yang hilang.
  4. Ketidakseimbangan kognitif, dimana pertanyaan atau perasaan kosong muncul pada situasi yang diberikan.

3)      Fase ketiga, encouraging cognitive accomaodation (mengupayakan terjadinya akomodasi kogntitif)

Dengan akomodasi, siswa mengubah konsep yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang dihadapinya. Menurut Posner (1982) adapun syarat terjadinya akomodasi adalah sebagai berikut:

  1. Harus ada ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap konsep lama yang telah ada dalam struktur kognitif.
  2. Ada konsepsi baru yang lebih mudah dimengerti (intelligible).
  3. Ada konsepsi baru yang lebih masuk akal (plausible).
  4. Ada konsepsi baru yang menyajikan peluang keberhasilan (fraitfull).
  1. E.     LangkahLangkah Yang Dilakukan Dalam Pembelajaran Perubahan Konseptual

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran perubahan konseptual untuk membangkitkan perubahan konseptual dalam hal ini adalah;

  1. Orientasi, yaitu pengajar membuka pelajaran dengan memberikan uraian singkat tentang materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran.
  2. Pemunculan ide, yaitu mahasiswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil. Pengajar berusaha memunculkan ide siswa dengan siswa diminta untuk menyatakan secara eksplisit idenya kepada teman dalam kelompok dan pengajar (guru).
  3. Penyusunan ulang ide, yaitu siswa menyusun kembali ide yang telah diperoleh pada langkah 2), yaitu meliputi;
    1. Pertukaran ide, yaitu siswa mendiskusikan jawaban pada langkah pemunculan ide dalam kelompoknya.
    2. Pembukaan situasi konflik.

Hal ini dimaksudkan agar jawaban mereka sesuai dengan konsep ilmiah  tentang materi yang sedang dipelajari.

  1. Pembentukan dan penilaian ide baru, yaitu siswa membangun sendiri ide atau pengetahuan baru berdasarkan konsepsi mereka. Pada kegiatan ini guru dapat memberikan bimbingan seperlunya. Dari kegiatan ini diharapkan siswa dapat menilai sendiri idenya.
  2. Penerapan ide baru (aplikasi), yaitu siswa mendiskusikan kembali jawaban pada tahap pemunculan ide. Selain itu siswa diminta untuk menjawab tugas-tugas lainnya yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Hal ini dimaksudkan untuk mencoba konsep-konsep ilmuwan yang telah dikembangkan dan diperoleh siswa dalam situasi baru.
  3. Pengkajian ulang perubahan ide, yaitu guru memberikan umpan balik untuk memperkuat konsep ilmuwan yang dimiliki siswa.
  4. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Perubahan Konseptual

Setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dan kekurangan model pembelajaran perubahan konseptual adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihan
  2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, pemahamannya tentang suatu konsep sebelum dipelajari secara formal. Dengan demikian siswa dilibatkan dalam merencanakan pengajarannya.
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk peduli dengan konsepsi awalnya (terutama konsepsi awal yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah). Dengan demikian siswa diharapkan menyadari kekeliruannya dan bersedia memperbaiki kekeliruaan tersebut.
  4. Dapat menciptakan suasana kelas  yang hidup karena siswa dituntut untuk aktif berdiskusi dengan teman dan gurunya. Dengan demikian cara belajar siswa aktif dapat terlaksana.
  5. Siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri pengetahuan yang diajarkan dengan memperhatikan konsepsi awalnya. Dengan demikian akan terjadi pembelajaran yang bermakna.
  6. Guru yang mengajar menjadi kreatif karena harus berusaha mencarikan alternatif untuk meluruskan konsepsi awal siswa yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah.
    1.      Kelebihan
    2. Karena untuk menerapkan model pembelajaran perubahan konseptual menggali konsepsi awal siswa sebelum siswa belajar secara formal, maka bagi siswa yang belum terbiasa pada situasi ini merasa ”takut” dengan beberapa pertanyaan berkenaan dengan materi yang belum dipelajari. Namun ini bisa diatasi dengan memberikan informasi bahwa tes awal tidak mempengaruhi nilai siswa.
    3. Membutuhkan waktu yang banyak, namun ini bisa diatasi dengan membatasi waktu ketika membagikan kelompok.
    4. Bagi guru yang kurang berpengalaman akan merasa kesulitan karena pengajaran disusun berdasarkan pada konsepsi awal siswa yang beragam, namun ini bisa diatasi dengan seringnya menerapkan model pembelajaran perubahan konseptual pada materi yang ada miskonsepsinya.

Hasil dari pembelajaran model perubahan konseptual ini, diharapkan dapat
berdampak  dan  bermakna  dalam  hidup  keseharian  peserta  didik.  Hal  ini
berdasarkan dari teori belajar bermakna David Ausubel. Menurut Ausubel, belajar
dapat dikalsifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan
dengan  cara  informasi  atau  materi  pelajaran  disajikan  pada  siswa,  melalui
penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa
dapat mengaitkan informasi tersebut pada struktur kognitif yang ada. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah
dipelajari dan diingat oleh siswa. Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi
dapat  dikomunikasikan  pada  siswa   baik  dalam   bentuk  penerimaan   yang
menyajikan informasi dalam bentuk final, atau bentuk belajar penemuan yang
mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang
diajarkan. Pada tingkat kedua, siswa dapat menghubungkan atau mengaitkan
informasi  itu  pada  pengetahuan (berupa  konsep-konsep)  yang  dimilikinya,  sehingga terjadi belajar bermakna.

DAFTAR PUSTAKA

http//repository.upi.edu/operator/upload/s_bio_0706603_chapter2.Diakses tanggal 15 Oktober 2012

http// isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/281094859_0216-1370. Diakses tanggal 10 Oktober 2012.

http// journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-dan-pembelajaran/…/693. oleh IN Sudyana – 2009. Diakses tanggal 15 Oktober 2012.

 

http: repository.upi.edu/operator/upload/t_pd_0808122_chapter1.pdf. Diakses tanggal 18 Oktober 2012

 
4 Comments

Posted by on March 12, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

4 responses to “Model Pembelajaran Perubahan Konseptual

  1. muhlisin

    March 26, 2013 at 5:10 am

    maaf sebelumnya…..kalo referensi dari model pembelajaran novik ada ngaa??????

     
  2. ardhian

    July 9, 2013 at 9:46 pm

    kk, saya dr surabaya, mohon dong buku referensi tentang novick.,,
    saya butuh banget buat tugas akhir kuliah…
    kalo ada mohon di kirim ke imel saya..
    za_ahmad@rocketmail.com
    ardhian.ahmad@gmail.com

     
    • dewi silvia yudistia

      July 13, 2013 at 12:18 pm

      maaf sblmx ya dek
      kk gk ada buku ttg novick itu dek..
      kk ngmbil bahanx diinternet jg dk,
      tp low adk mau berusaha cari cba buka Library Genesis dek..
      cri disana buku2 elektrik dek..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: